PREVALENSI KELAINAN MIOPIA BERDASARKAN KARAKTERISTIK USIA PASIEN DI OPTIK PUAS SLEMAN

Penulis

  • Aninda Naswa Faradhila Poltekkes Ummi Khasanah
  • Joko Sulistyo Poltekkes Ummi Khasanah
  • Eka Oktavia Poltekkes Ummi Khasanah

Kata Kunci:

Prevalensi, Miopia, Karakteristik Usia, Optik Puas Sleman, Kelainan Refraksi

Abstrak

Latar Belakang: Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab utama gangguan penglihatan secara global dan nasional, dengan miopia (rabun jauh) sebagai jenis kelainan refraksi yang paling banyak ditemukan. Peningkatan kasus miopia dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama kebiasaan aktivitas jarak dekat dan durasi screen time. Pemahaman mengenai distribusi miopia berdasarkan karakteristik usia pasien pada tingkat pelayanan optik penting untuk dasar perencanaan program edukasi dan penanganan visual yang tepat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi kelainan miopia berdasarkan karakteristik usia pasien di Optik Puas Sleman selama periode tahun 2019–2024.  Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif observasional. Data yang digunakan adalah data sekunder dari rekam medis/catatan pemeriksaan refraksi pasien di Optik Puas Sleman sejak 1 Januari 2019 hingga 31 Desember 2024. Populasinya adalah seluruh pasien terdiagnosis miopia pada periode tersebut. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara statistik deskriptif untuk mengukur frekuensi dan persentase distribusi kasus miopia berdasarkan kelompok usia.  Hasil: Jumlah pasien penderita miopia di Optik Puas Sleman selama periode 2019–2024 tercatat sebanyak 487 orang. Distribusi kasus menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dari tahun ke tahun, yaitu 50 orang pada tahun 2019, 60 orang pada tahun 2020, 75 orang pada tahun 2021, 83 orang pada tahun 2022, 106 orang pada tahun 2023, dan 113 orang pada tahun 2024. Karakteristik penderita miopia didominasi oleh kelompok usia anak, remaja, hingga dewasa muda (kisaran usia 10–30 tahun).  Kesimpulan: Kasus miopia di Optik Puas Sleman mengalami peningkatan signifikan dari tahun 2019 hingga 2024 dan mayoritas terjadi pada kelompok usia muda. Hasil ini menegaskan pentingnya edukasi visual hygiene dan skrining refraksi sejak dini pada usia sekolah guna menekan tingkat progresivitas miopia.

Background: Refractive errors are one of the primary causes of visual impairment globally and nationally, with myopia being the most prevalent type. The increase in myopia cases is influenced by several factors, notably near-work habits and screen time. Understanding the distribution of myopia based on patient age characteristics at the optical service level is essential as a basis for planning appropriate visual education and management programs. Objective: This study aims to determine the prevalence of myopia based on patient age characteristics at Optik Puas Sleman during the 2019–2024 period. Methods: This study employed a descriptive quantitative observational design. Secondary data were gathered from medical records/refraction examination logs of patients at Optik Puas Sleman from January 1, 2019, to December 31, 2024. The population comprised all patients diagnosed with myopia during this period. Data analysis was conducted using descriptive statistics to evaluate frequencies and percentages of myopia cases across age groups. Results: A total of 487 patients were diagnosed with myopia at Optik Puas Sleman from 2019 to 2024. Case distribution revealed a steady annual increase: 50 cases in 2019, 60 in 2020, 75 in 2021, 83 in 2022, 106 in 2023, and 113 in 2024. Myopia cases were predominantly found in children, adolescents, and young adults (age range 10–30 years). Conclusion: Myopia cases at Optik Puas Sleman increased significantly between 2019 and 2024, primarily affecting younger age groups. These findings highlight the need for early visual hygiene education and refractive screening starting at school age to mitigate myopia progression.

Unduhan

Diterbitkan

2026-09-29