PENYUTRADARAAN FILM SAREH DENGAN PENEKANAN EKSPRESI UNTUK MENGUATKAN SUSPENSE TOKOH UTAMA SAREH
Kata Kunci:
Penyutradaraan, Penekanan Ekspresi, Suspense, Pelecehan SeksualAbstrak
Film Sareh merupakan karya film fiksi pendek yang mengangkat isu sosial berupa pelecehan seksual di lingkungan perkampungan, khususnya terhadap perempuan yang tidak memiliki kekuasaan sosial. Sutradara berperan penting dalam menerjemahkan naskah menjadi bentuk visual dan emosional, dengan menekankan ekspresi dan gestur untuk memperkuat unsur suspense dalam cerita. Konsep penekanan ekspresi digunakan untuk menggambarkan trauma dan depresi mendalam yang dialami tokoh utama Sareh, yang terdiri dari scene 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9a, 11a, 12a, 13, 13a. dalam proses penyutradaraan, pendekatan yang digunakan adalah teori Director as interpretator¸teori latihan ekspresi dan gestur menurut Eka D. Sitorus, serta konsep suspense dari Nicholas T. Proferes. Metode penciptaan meliputi tahap pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi, yang mencakup analisis scenario, riset visual, casting, reading, rehearsal, dan editing. Hasil karya memperlihatkan keberhasilan pemeran dalam mengeluarkan karakter Sareh dan berekspresi sesuai naskah tetapi kurang maksimal dalam menerapkan penekanan ekspresi. Film ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap wacana perfilman dan kesadaran public mengenai isu pelecehan seksual serta pentingnya keberpihakan terhadap korban.
The film "Sareh" is a short fiction film that addresses the social issue of sexual harassment in village communities, particularly targeting women who lack social power. The director plays a crucial role in translating the script into visual and emotional form, emphasizing expressions and gestures to enhance the suspense elements of the story. The concept of expression emphasis is used to portray the deep trauma and depression experienced by the main character, Sareh, as depicted in scenes 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9a, 11a, 12a, 13, and 13a. In the directing process, the approach used includes the theory of the Director as Interpreter, expression and gesture training theory by Eka D. Sitorus, and the concept of suspense by Nicholas T. Proferes. The creative method encompasses pre-production, production, and post-production stages, including script analysis, visual research, casting, reading, rehearsal, and editing. The final work demonstrates the actor’s success in portraying the character Sareh and expressing emotions in line with the script, although the emphasis on expressions was not fully optimized. This film is expected to contribute to the discourse of filmmaking and raise public awareness regarding sexual harassment and the importance of supporting victims.


