MODEL MANAJEMEN TATA KELOLA SANGGAR SENI: STUDI KASUS IMPLEMENTASI SENI BAKTI, SOSIAL, PROFESIONAL, DAN BISNIS DI SANGGAR PARIPURNA DESA BONA, KECAMATAN BLAHBATUH GIANYAR
Kata Kunci:
Sanggar Paripurna, Manajemen Tata Kelola, Seni Dan BudayaAbstrak
Penelitian ini membahas manajemen tata kelola di Sanggar Paripurna, yang terletak di Desa Bone, Kecamatan Belah Batu, Kabupaten Gianyar, Bali. Sanggar ini didirikan pada 1 April 1990 oleh Bapak Made Sidia dan memiliki empat program utama: seni bakti, seni sosial, seni profesional, dan seni bisnis. Sanggar Paripurna melibatkan sekitar 600 anggota yang terdiri dari perempuan berbagai usia, dari TK hingga dewasa, dalam setiap program yang dilaksanakan. Penelitian ini menemukan bahwa model manajemen yang diterapkan di Sanggar Paripurna efektif dalam mengelola keempat aspek tersebut dan berdampak positif terhadap perkembangan sanggar serta industri kreatif lokal. Keberhasilan sanggar ini terletak pada kombinasi nilai-nilai tradisional dengan tuntutan zaman modern, serta kerjasama yang baik antara ketua sanggar, anggota, masyarakat, dan pemerintah. Sanggar Paripurna juga berhasil memberikan kontribusi dalam pelestarian dan pengembangan seni dan budaya, serta dapat dijadikan contoh bagi sanggar seni lainnya di Indonesia.
This study discusses the management governance at Sanggar Paripurna, located in Bone Village, Belah Batu District, Gianyar Regency, Bali. The studio was founded on April 1, 1990, by Mr. Made Sidia and has four main programs: devotional arts, social arts, professional arts, and business arts. Sanggar Paripurna involves around 600 members, consisting of women of various ages, from kindergarten to adults, in each program implemented. The research found that the management model applied at Sanggar Paripurna is effective in managing these four aspects and has a positive impact on the development of the studio and the local creative industry. The success of this studio lies in the combination of traditional values with the demands of modern times, as well as the good cooperation between the studio leader, members, the community, and the government. Sanggar Paripurna has also successfully contributed to the preservation and development of arts and culture, and can serve as a model for other art studios in Indonesia.


