HUBUNGAN IMT DAN PERSENTASE LEMAK TUBUH DENGAN KELINCAHAN PADA CABANG OLAHRAGA ATLETIK DI SMP KABUPATEN GROBOGAN
Kata Kunci:
IMT, Persentase Lemak Tubuh, Kelincahan, AtletikAbstrak
Performa dalam olahraga atletik sangat ditentukan oleh efisiensi fisik, termasuk kelincahan (agility). Salah satu faktor internal penentu prestasi adalah komposisi tubuh, seperti Indeks Massa Tubuh (IMT) dan persentase lemak tubuh. Pada atlet usia SMP, sering terjadi lonjakan pertumbuhan yang membuat status fisik bervariasi. Lemak yang berlebih bertindak sebagai beban non-kontraktil yang meningkatkan inersia tubuh, sehingga dapat menghambat kemampuan manuver dan menurunkan tingkat kelincahan. Di Kabupaten Grobogan, banyak atlet dan guru olahraga/pelatih belum memantau komposisi tubuh secara berkala, padahal profil tubuh yang tidak ideal dapat menyebabkan penurunan efisiensi gerak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasi dan desain studi cross-sectional. Pengukuran semua variabel dilakukan secara simultan pada satu waktu tertentu. Data IMT dan persentase lemak tubuh diukur menggunakan timbangan digital health scale, sementara data kelincahan diperoleh melalui tes lari T-Test. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji hipotesis menggunakan korelasi Pearson serta regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan yang bersifat positif dan kuat antara IMT dengan waktu tempuh kelincahan (p = 0,042; r = 0,529). Hal ini berarti semakin tinggi nilai IMT, maka waktu tempuh semakin lama (kelincahan menurun).Terdapat hubungan signifikan yang positif dan kuat antara persentase lemak tubuh dengan waktu kelincahan (p = 0,009; r = 0,651). Secara simultan, terdapat hubungan yang sangat kuat antara IMT dan persentase lemak tubuh terhadap kelincahan (p = 0,000; R = 0,965). Variabel komposisi tubuh ini memberikan kontribusi sebesar 93,1% terhadap kelincahan atlet. Kesimpulan dari penelitian ini adalah komposisi tubuh yang diukur melalui IMT dan persentase lemak tubuh memiliki kaitan erat dengan tingkat kelincahan atlet atletik di SMP Kabupaten Grobogan.
Performance in athletics is largely determined by physical efficiency, including agility. One of the internal factors determining performance is body composition, such as Body Mass Index (BMI) and body fat percentage. Junior high school athletes often experience growth spurts that cause variations in physical status. Excess fat acts as a non-contractile load that increases body inertia, thus inhibiting maneuverability and reducing agility. In Grobogan Regency, many athletes and sports teachers/coaches have not regularly integrated body composition, even though a non-ideal body profile can lead to decreased movement efficiency. This research used a quantitative approach with a correlational research type and a cross-sectional study design. All variables were measured simultaneously at a specific point in time. BMI and body fat percentage were measured using a digital health scale, while agility data were obtained using a T-test. Purposive sampling was used for sampling. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk normality test and hypothesis testing using Pearson correlation and multiple linear regression. The results showed a strong, positive, and significant relationship between BMI and agility time (p = 0.042; r = 0.529). This means that the higher the BMI, the longer the travel time (decreasing agility). There was a strong, positive, and significant relationship between body fat percentage and agility time (p = 0.009; r = 0.651). Simultaneously, there was a very strong relationship between BMI and body fat percentage on agility (p = 0.000; R = 0.965). This body composition variable contributed 93.1% to the athletes' agility. The conclusion of this study is that body composition measured through BMI and body fat percentage is closely related to the level of agility of athletic athletes at junior high schools in Grobogan Regency.


