METODOLOGI TAFSIR MARAH LABID KARYA SYAIKH NAWAWI AL-BANTANI

Penulis

  • Butsainah Fairuz Haya Krido Islami Universitas Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Moch. Dentrys Al’fiq Rosada Universitas Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Muhammad Zuhair Badegesy Universitas Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Kata Kunci:

Nawawi Al-Bantani, Marah Labid, Al-Munir

Abstrak

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis kitab tafsir karya Syaikh Nawawi Al-Bantani, seorang ulama besar Nusantara yang berkontribusi signifikan dalam dunia tafsir Al-Qur’an. Syaikh Nawawi, yang menghabiskan sekitar 30 tahun di negara-negara Arab untuk mendalami berbagai ilmu keislaman, menghasilkan salah satu karya monumental, yaitu kitab tafsir Marah Labid atau dikenal juga sebagai Tafsir Al-Munir. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Kajian berfokus pada sumber data primer, yaitu kitab tafsir Marah Labid, serta didukung oleh sumber data sekunder berupa kitab-kitab ilmu Al-Qur’an, biografi, dan literatur terkait lainnya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Marah Labid adalah salah satu kitab tafsir kebanggaan ulama Nusantara yang ditulis pada abad ke-19, masa pra-modern. Kitab ini menjadi tafsir kedua setelah Turjuman Al-Mustafid yang menafsirkan Al-Qur’an secara lengkap dalam 30 juz. Ditulis dalam bahasa Arab dan terdiri dari dua jilid, kitab ini menggunakan beberapa metode tafsir, seperti tahlily dengan pembahasan ayat yang berurutan dari surat Al-Fatihah hingga surat An-Nas, ijmaly yang memberikan penjelasan secara ringkas, dan muqaran yang membandingkan ayat-ayat untuk memperjelas maknanya. Kitab ini memiliki keistimewaan dalam gaya penyampaiannya, meskipun tetap terdapat beberapa kelemahan. Secara keseluruhan, tafsir ini menjadi salah satu warisan intelektual Islam yang penting bagi perkembangan kajian tafsir di Nusantara dan dunia Islam.

This article aims to examine and analyze the book of tafsir by Syaikh Nawawi Al-Bantani, a great Indonesian scholar who contributed significantly to the world of Al-Qur’an exegesis. Shaikh Nawawi, who spent around 30 years in Arab countries studying various Islamic sciences, produced one monumental work, namely the book of Tafsir Marah Labid or also known as Tafsir Al-Munir. This research uses a library research method with a qualitative descriptive approach. The study focuses on primary data sources, namely Marah Labid’s book of interpretations, and is supported by secondary data sources in the form of Al-Qur’an books, biographies and other related literature. The results of the research show that Marah Labid is one of the tafsir books that the Indonesian ulama are proud of, written in the 19th century, the pre-modern period. This book is the second interpretation after Turjuman Al-Mustafid who interpreted the Koran completely in 30 juz. Written in Arabic and consisting of two volumes, this book uses several methods of interpretation, such as tahlily with a discussion of sequential verses from Surah Al-Fatihah to Surah An-Nas, ijmaly which provides a concise explanation, and muqaran which compares verses to clarify its meaning. This book is special in its delivery style, although there are still several weaknesses. Overall, this tafsir is one of the Islamic intellectual legacies that is important for the development of tafsir studies in the archipelago and the Islamic world.

Unduhan

Diterbitkan

2025-01-30