KERUSAKAN LINGKUNGAN DALAM AL-QUR’AN
(Perspektif Tafsir Tanthawi Al Jawhari)
Kata Kunci:
Kerusakan Lingkungan, Tafsir Ilmiah, Tanthawi Al-JawhariAbstrak
Penelitian ini membahas kerusakan lingkungan dalam perspektif tafsir Tanthawi Al-Jawhari, dengan fokus pada penerapan ilmu pengetahuan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan ekologi. Tanthawi Al-Jawhari, seorang ulama terkemuka Mesir, menggunakan pendekatan ilmiah untuk menafsirkan Al-Qur’an, yang tidak hanya memuat aspek teologis, tetapi juga menyertakan pengetahuan ilmiah kontemporer, khususnya dalam hal kerusakan lingkungan. Salah satu contoh utama adalah penafsiran atas QS. Ar-Rum: 41 yang menggambarkan kerusakan bumi dan lautan sebagai akibat dari perbuatan manusia. Tanthawi menekankan bahwa manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan alam. Metode tafsir yang digunakan Tanthawi mencakup analisis bahasa, ilmu sains, dan konteks sosial, yang menjadikan tafsirnya relevan dengan permasalahan lingkungan masa kini. Dengan membandingkan tafsir Tanthawi dengan tafsir Zaghlul al-Najjar, penelitian ini menunjukkan perbedaan dalam pendekatan ilmiah terhadap kerusakan lingkungan, di mana Tanthawi lebih menekankan etika dan tanggung jawab moral, sementara Zaghlul mengintegrasikan ilmu sains secara lebih teknis. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa Al-Qur’an tidak hanya relevan pada masa pewahyuan, tetapi juga dapat memberikan petunjuk untuk menyelesaikan tantangan-tantangan global seperti kerusakan lingkungan.
This study discusses environmental damage from the perspective of Tanthawi Al-Jawhari’s exegesis, focusing on the application of scientific knowledge in interpreting Qur’anic verses related to ecology. Tanthawi Al-Jawhari, a prominent scholar from Egypt, employed a scientific approach in his exegesis of the Qur’an, incorporating not only theological aspects but also contemporary scientific knowledge, particularly concerning environmental damage. One key example is his interpretation of QS. Ar-Rum: 41, which depicts the corruption of the earth and sea as a result of human actions. Tanthawi emphasizes that humans, as stewards (khalifah) on earth, bear a significant responsibility to maintain the balance of nature. The exegesis method used by Tanthawi includes linguistic analysis, scientific knowledge, and social context, making his exegesis relevant to contemporary environmental issues. By comparing Tanthawi’s exegesis with that of Zaghlul al-Najjar, this study highlights differences in their scientific approaches to environmental damage, with Tanthawi focusing more on ethics and moral responsibility, while Zaghlul integrates scientific knowledge more technically. The findings reinforce the understanding that the Qur’an is not only relevant in its time of revelation but can also provide guidance in addressing global challenges such as environmental degradation


