SISTEM DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI INGGRIS

Penulis

  • Aura Sri Wahyuni Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi
  • Neneng Hasanah Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi

Kata Kunci:

Sistem Pendidikan Inggris, Attainment Gap, Krisis Guru, Brexit, Exam-Centric, Kebijakan Pendidikan

Abstrak

Sistem pendidikan di Inggris secara historis diakui sebagai salah satu kiblat dan tolok ukur standar mutu pendidikan internasional. Sistem ini memiliki karakteristik desentralisasi tata kelola ke dalam empat wilayah konstituen serta didukung oleh instrumen penjaminan mutu yang ketat melalui Ofsted dan standarisasi evaluasi berjenjang seperti Key Stages, GCSE, dan A-Levels. Namun, dalam dekade terakhir—khususnya pasca-Brexit dan dinamika pasca-pandemi—sistem ini dihadapkan pada kerentanan internal dan krisis multidimensional yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk membedah secara mendalam struktur tata kelola pendidikan di Inggris, mengidentifikasi problematika krusial kontemporer yang melanda, serta mengevaluasi efektivitas langkah kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah setempat. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analitis serta analisis sintesis hubungan kausalitas, penelitian ini berhasil memetakan efek domino krisis (vicious cycle) yang terjadi dalam sistem pendidikan Inggris: •         Pelebaran Kesenjangan Sosio-Ekonomi (Attainment Gap): Terdapat jurang pemisah hasil belajar yang nyata antara sekolah negeri (state schools) dan sekolah swasta (private schools). Sebanyak 32% siswa sekolah negeri melaporkan bahwa sekolah mereka kekurangan guru dan 68% merasa tertinggal dalam materi pelajaran akibat disrupsi pengajaran. •Krisis Rekrutmen dan Retensi Pendidik: Jumlah guru purna-waktu (Full-Time Equivalent/FTE) menyusut 0,4% dalam satu tahun terakhir akibat tingginya tingkat burnout, beban kerja administratif, dan kompensasi yang tidak sepadan di tengah krisis biaya hidup. Rekrutmen guru sekolah menengah nasional berada 11% di bawah target kebutuhan riil, bahkan mata pelajaran spesifik seperti Fisika hanya memenuhi 17% dari target nasional. •Dampak Finansial Pasca-Brexit: Kebijakan pengetatan imigrasi menyebabkan jumlah pelamar berstatus diterima dari Uni Eropa untuk tingkat sarjana (undergraduate) merosot drastis hingga 50%, memaksa perguruan tinggi beralih agresif ke pasar internasional Asia dan Afrika demi stabilitas fiskal kampus. •Krisis Kesehatan Mental Siswa: Kurikulum yang sangat kaku dan berorientasi pada ujian (exam-centric) memicu tekanan psikologis masif, di mana 1 dari 2 siswa kehilangan kepercayaan diri dalam menghadapi ujian nasional akibat gangguan proses belajar. Pemerintah Inggris telah merespons krisis ini melalui alokasi dana tambahan Pupil Premium, reformasi jalur vokasi melalui T-Levels, serta penyesuaian skema pendanaan universitas. Meskipun menunjukkan upaya adaptasi yang responsif, kebijakan tersebut dinilai belum menyentuh akar permasalahan struktural secara komprehensif sehingga efektivitas jangka panjangnya masih memerlukan evaluasi mendalam. Dinamika di Inggris memberikan pelajaran berharga bagi negara lain, termasuk Indonesia, bahwa standardisasi dan sistem pendidikan yang maju tetap rentan terhadap krisis jika mengabaikan aspek kesejahteraan mental pendidik dan peserta didik, serta aspek keadilan sosial (social equity).

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-29