REINTERPRETASI LARANGAN TABARRUJ DALAM QS. AL-AHZAB AYAT 33: STUDI KRITIK TERHADAP STIGMA KEBERSIHAN WANITA BERCADAR

Penulis

  • Aura Aqilla Uin Sultan Syarif Kasim, Riau
  • Hidayatullah Ismail Uin Sultan Syarif Kasim, Riau

Kata Kunci:

Tabarruij, Wanita Beircadar, Keibeirsihan Diri

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya stigma negatif di ruang publik yang melabeli wanita bercadar dengan atribut "bau badan" dan "kucel". Stigma ini berkembang menjadi generalisasi yang menyudutkan, bahkan memicu keraguan di kalangan muslimah untuk menggunakan produk kebersihan karena kekhawatiran terhadap dosa tabarruj. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan Tafsir Maudhu’i terhadap QS. Al-Ahzab: 33 dan didukung dengan data wawancara lapangan, penelitian ini bertujuan mereinterpretasi makna tabarruj guna membedah batasan antara berhias yang dilarang dan kewajiban menjaga kebersihan. Hasil penelitian dan data lapangan menunjukkan bahwa terdapat dilema psikologis serta kerancuan pemahaman syariat di kalangan praktisi cadar terkait penggunaan produk higienitas. Temuan ini menegaskan bahwa tabarruj adalah tindakan menampakkan keindahan secara dekoratif-provokatif, sedangkan menjaga higienitas melalui produk kebersihan fungsional adalah tuntutan adab dan amanah raga yang bersifat wajib. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bagi wanita bercadar, menjaga kebersihan di iklim tropis merupakan strategi dakwah visual untuk melindungi martabat identitas agama dari sentimen negatif masyarakat.

This research is driven by the prevalence of negative stigmas in public spaces labeling niqab-wearing women with attributes such as "body odor" and an "unkempt" (kucel) appearance. These stigmas have evolved into marginalizing generalizations, even triggering hesitation among Muslim women to use hygiene products due to fears of committing the sin of tabarruj. Using a qualitative method with a Tafsir Maudhu’i approach to QS. Al-Ahzab: 33 and supported by field interview data, this study aims to reinterpret the meaning of tabarruj to discern the boundaries between prohibited adornment and the obligation to maintain cleanliness. The results and field data indicate psychological dilemmas and confusion regarding Sharia understanding among niqab practitioners concerning the use of hygiene products. These findings assert that tabarruj refers to the decorative-provocative display of beauty, whereas maintaining hygiene through functional cleanliness products is a requirement of etiquette (adab) and a physical responsibility (amanah) that is obligatory. This study concludes that for niqab-wearing women, maintaining cleanliness in a tropical climate is a visual dawah strategy essential for protecting the dignity of religious identity from negative societal sentiments.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-30