PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN PENCEGAHAN PERNIKAHAN DINI PADA REMAJA PEREMPUAN DI SMAN 01 NGEMPLAK SLEMAN YOGYAKARTA
Kata Kunci:
Penyuluhan Kesehatan, Pengetahuan Pernikahan DiniAbstrak
Masa remaja merupakan fase penting dalam perkembangan fisik, psikologis, dan intelektual yang membuat mereka rentan terhadap berbagai risiko, termasuk pernikahan dini. Di Indonesia, pernikahan dini masih tinggi, dengan lebih dari 1 juta perempuan menikah sebelum usia 18 tahun dan dampaknya mencakup keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, risiko kekerasan, dan kemiskinan. Faktor penyebabnya meliputi norma sosial budaya, ekonomi, rendahnya pendidikan, serta minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang sering dianggap tabu. Dampak pernikahan dini mencakup risiko kesehatan serius bagi ibu dan bayi seperti anemia, berat lahir rendah (BBLR), hingga risiko kematian. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pre-eksperimen dengan menggunakan rancangan one group pretest-posttest. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan remaja perempuan kelas 10 (sepuluh) SMAN 01 Ngemplak terhadap pencegahan pernikahan dini saat pretest atau sebelum dilakukannya penyuluhan terdapat 0 responden dengan kategori kurang (0%), 11 responden dengan kategori cukup (12,9%), dan 74 responden dengan kategori baik (87,1%). Tingkat pengetahuan remaja perempuan saat dilakukannya posttest atau setelah diberikan penyuluhan terdapat 0 responden dengan kategori kurang (0%), 0 responden dengan kategori cukup (0%), dan 85 responden dengan kategori baik (100%). Dapat diambil kesimpulan dari hasil penelitian bahwa adanya pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan pencegahan pernikahan dini pada remaja perempuan di SMAN 01 Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Diharap dengan diberikannya penyuluhan mengenai pencegahan pernikahan dini, dapat menjadikan penyuluhan sebagai sarana untuk menambah pengetahuan dan dapat mengimplementasi hal-hal yang dapat mencegah terjadinya pernikahan dini.
Adolescence is a critical phase in physical, psychological, and intellectual development, making individuals vulnerable to various risks, including early marriage. In Indonesia, early marriage rates remain high, with over 1 million girls marrying before 18, resulting in limited access to education, health services, increased risk of violence, and poverty. Contributing factors include socio-cultural norms, economic pressures, low education levels, and a lack of reproductive health knowledge, often considered taboo. The impacts of early marriage include serious health risks for mothers and babies, such as anemia, low birth weight (LBW), and even death. This study employed a pre-experimental design using a one-group pretest-posttest approach. The results showed that, prior to the health education (pretest), the knowledge level of 10th-grade female students at SMAN 01 Ngemplak about preventing early marriage was as follows: 0 respondents with less knowledge (0%), 11 respondents with sufficient knowledge (12.9%), and 74 respondents with good knowledge (87.1%). After the health education intervention (posttest), the knowledge levels improved to 0 respondents with poor knowledge (0%), 0 respondents with moderate knowledge (0%), and 85 respondents with good knowledge (100%). The study concludes that health education significantly influences knowledge about preventing early marriage among female students at SMAN 01 Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. It is hoped that health education on early marriage prevention can serve as a means to enhance knowledge and encourage the implementation of measures to prevent early marriage.


