PENGUATAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT SERTA PENCEGAHAN STUNTING MELALUI PROGRAM KKN UNIVERSITAS NUSA PUTRA DI DESA CICANTAYAN
Kata Kunci:
Kkn, Stunting, Phbs, Posyandu, Gizi BalitaAbstrak
Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan utama di Indonesia dengan prevalensi nasional mencapai 21,6% (SSGI, 2022). Desa Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, merupakan salah satu wilayah yang menghadapi tantangan tersebut. Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nusa Putra dilaksanakan selama 30 hari (6 Agustus–4 September 2025) dengan fokus utama pada pencegahan stunting melalui penguatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan edukasi gizi masyarakat. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif berbasis komunitas, melibatkan 19 mahasiswa lintas disiplin, pemerintah desa, dan kader posyandu. Kegiatan utama meliputi pelayanan posyandu mingguan, edukasi gizi di PAUD, senam bersama, minggu bersih, serta seminar tentang pencegahan stunting dan kesehatan mental. Data monitoring menunjukkan terdapat 25 anak mengalami stunting, 7 gizi kurang, dan 2 gizi buruk pada bulan Agustus 2025. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan partisipasi masyarakat dalam posyandu, peningkatan kesadaran PHBS, serta dukungan kader kesehatan dalam pendampingan gizi balita. Program ini membuktikan bahwa sinergi mahasiswa, kader, dan masyarakat dapat memperkuat peran desa dalam pencegahan stunting.
Stunting remains a major public health issue in Indonesia, with a national prevalence of 21.6% (SSGI, 2022). Cicantayan Village, Sukabumi Regency, is one of the areas facing this challenge. The Community Service Program (KKN) of Universitas Nusa Putra was carried out for 30 days (August 6–September 4, 2025) focusing on stunting prevention through strengthening clean and healthy living behavior (PHBS) and nutrition education. The method applied was a community-based participatory approach involving 19 interdisciplinary students, village authorities, and posyandu cadres. The main activities included weekly posyandu services, nutrition education in preschools, group exercise, clean-up campaigns, and seminars on stunting prevention and mental health. Monitoring data recorded 25 children with stunting, 7 undernourished, and 2 severely malnourished in August 2025. The outcomes indicated increased community participation in posyandu, improved PHBS awareness, and enhanced cadre support in child nutrition monitoring. This program demonstrates that collaboration between students, cadres, and the community strengthens village-level efforts in stunting prevention.


