HUBUNGAN TINGKAT STRESS DENGAN KEJADIAN INSOMNIA PADA MAHASISWA KEPERAWATAN TINGKAT AKHIR DI UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA

Penulis

  • Surajudin Universitas Aisyiyah Yogyakarta
  • Noor Ariyani R Universitas Aisyiyah Yogyakarta
  • Rosiana Nur Imallah Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Kata Kunci:

Peer Education, Pengetahuan, Dismenore, Remaja Putri

Abstrak

Pendahuluan: Insomnia adalah gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan tidur, kualitas tidur yang buruk, atau bangun tidak segar meskipun ada waktu cukup untuk tidur. Idealnya, tidur malam berlangsung 6–9 jam per hari untuk mendukung aktivitas optimal. Gejala insomnia meliputi sulit tidur, mimpi buruk, kelelahan, hingga gangguan fisik. Insomnia sering dipicu oleh kecemasan, depresi, atau masalah pribadi. Di Indonesia, prevalensi insomnia mencapai sekitar 10%, dengan angka pada mahasiswa di DIY sebesar 45,19%. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel terdiri dari 69 mahasiswa keperawatan tingkat akhir yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner DASS-42 untuk mengukur stres dan KSPBJ-IRS untuk mengukur insomnia. Analisis data dilakukan dengan uji Product Moment. Hasil: uji Correlation menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan kejadian insomnia dengan nilai signifikansi 0,000 (< 0,05) dan koefisien korelasi sebesar 0,512. Angka ini termasuk dalam kategori korelasi sedang dan bersifat positif. Kesimpulan: Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat stres dan insomnia pada mahasiswa keperawatan tingkat akhir. Semakin tinggi stres, semakin besar risiko gangguan tidur. Stres menjadi prediktor utama gangguan tidur dan depresi, dengan insomnia yang memperparah kondisi psikologis akibat aktivasi saraf simpatis, peningkatan kortisol, dan gangguan kognitif.

Unduhan

Diterbitkan

2025-08-30