TERAPI RELAKSASI NAFAS DALAM STRATEGI PENGONTROLAN MARAH PADA PASIEN DENGAN RISIKO GANGGUAN KEKERASAN DI RSJD SURAKARTA : STUDI KASUS

Penulis

  • Niken Auditya Rahmawati Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • Arum Pratiwi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Kata Kunci:

Kesehatan jiwa, Risiko perilaku kekerasan, Teknik relaksasi napas dalam

Abstrak

Latar Belakang : skizofrenia merupakan gangguan mental kronik yang salah satu gejalanya adalah perilaku kekerasan (PK). Terapi keperawatan yang mungkin diaplikasikan untuk membantu klien dalam mengurangi perilaku kekerasan adalah terapi relaksasi nafas dalam. Tujuan : adalah untuk mengetahui dampak terapi nafas dalam pada pasien dengan resiko kekerasan sebelum dan sesudah intervensi. Gambaran kasus : pasien berjumlah 2 orang dengan masalah keperawatan perilaku kekerasan yang berjenis kelamin laki laki dengan usia 19 dan 37 tahun, beragama islam, dan belum menikah. Tanda gejala saat diberikan terapi adalah amuk, kurang kooperatif, tidak mau mengikuti kegiatan diruangan, dan emosi tidak stabil. Metode : jenis penelitian ini adalah deskriptif menggunakan pendekatan studi kasus, intervensi yang digunakan adalah teknik relaksasi nafas dalam, yang dilakukan selama 3 hari pada tanggal 24 sampai 26 Oktober 2023. Intervensi dengan cara meminta pasien untuk tarik nafas dan menahan selama 5 menit lalu dihembuskan diulangi selama 5- 10 menit. Keberhasilan terapi di evaluasi menggunakan instrument yang digunakan menyesuaikan Standart Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) dengan menggunakan tanda ceklis pada lembar observasi. Berdasarkan evaluasi penerapan relaksasi nafas dalam selama 3 hari menunjukkan bahwa terdapat penurunan gejala resiko perilaku kekerasan pada kedua subjek. Hasil : penelitian menujukkan bahwa terdapat 10 tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan sebelum dilakukan intervensi dari 14 aspek yang dinilai. Hari pertama setelah penerapan terjadi penurunan tanda gejala resiko perilaku kekerasan yaitu ditemukan sebanyak 5 hari. Sedangkan pada pasien dengan gangguan perilaku kekerasan sebelum penerapan ditemukan 1 tanda gejala resiko perilaku kekerasan meliputi suara keras, bicara ketus, mata melotot, pandangan tajam, dan wajah memerah. Hari pertama setelah penerapan terjadi penurunan tanda gejala yaitu ditemukan 5 tanda gejala resiko perilaku kekerasan. Kesimpulan: penerapan yang dilakukan terapi relaksasi napas dalam terbukti efektif untuk menurunkan tanda dan gejala pada pasien resiko perilaku kekerasan yang dimana terjadi penurunan pada subyek I menurun menjadi 5 dari sebelumnya di angka 10 dari 14 aspek yang dinilai dan pada subyek II menurun menjadi 5 yang sebelumnya di angka 12 aspek yang dinilai dari tanda gejala risiko perilaku kekerasan. Saran : terapi relaksasi nafas dalam menjadi bagian dalam penatalaksanaan pasien resiko perilaku kekerasan di rawat inap rumah sakit jiwa.

Unduhan

Diterbitkan

2024-08-31