EVALUASI FAKTOR PEMICU STUNTING DI JAWA TIMUR TAHUN 2023 MENGGUNAKAN PENDEKATAN ANALISIS DISKRIMINAN

Penulis

  • Azzam Pahlawan Ramadhan Institut Teknologi Sepuluh Nopember
  • Alyaa Nidya Shadrina Anwar Institut Teknologi Sepuluh Nopember
  • I Kadek Veari Andramiko Institut Teknologi Sepuluh Nopember
  • Ni Luh Eva Pratnyaningsih Institut Teknologi Sepuluh Nopember
  • Sri Pingit Wulandari Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Kata Kunci:

Analisis Diskriminan, Gizi, Stunting

Abstrak

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang banyak ditemukan di negara berkembang, tak terkecuali Indonesia. Stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis, stimulasi psikososial, serta paparan infeksi berulang, terutama selama periode kritis 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Salah satu langkah penting dalam pencegahan stunting adalah dengan memberikan imunisasi secara berkesinambungan. Salah satu jenis imunisasi yang paling penting untuk diberikan kepada anak, bahkan sebelum usia satu bulan, yaitu imunisasi BCG. Selain itu, ketersediaan fasilitas kesehatan, seperti posyandu, juga berpengaruh signifikan terhadap prevalensi stunting. Dalam konteks prevalensi stunting, analisis diskriminan dapat diterapkan untuk mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan antara kelompok balita dengan prevalensi stunting rendah, tinggi, dan menengah. Variabel-variabel seperti tingkat imunisasi BCG, jumlah akses terhadap fasilitas kesehatan seperti posyandu, dan Umur Harapan Hidup (UHH). Dari hasil analisis didapatkan hasil kategori dengan status prevalensitinggi secara umum memiliki rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan kategori lainnya. Namun, pada variabel jumlah posyandu, kategori menengah justru memiliki angka tertinggi. Faktor yang memengaruhi pravalensi stunting di Jawa Timur tahun 2023 telah memenuhi asumsi distribusi normal multivariat serta asumsi homogenitas varians-kovarians. stunting pada fungsi 1 adalah persentase Umur Harapan Hidup sedangkan pada fungsi 2 adalah Jumlah Posyandu. Ketepatan klasifikasi model fungsi diskriminan cukup tinggi, yaitu 68,4%.

Unduhan

Diterbitkan

2024-11-29