EKSISTENSI SERIKAT TOLONG MENOLONG MASYARAKAT BATAK TOBA DI PERANTAUAN (STUDI KOMPARASI STM DI DESA NGASO, KECAMATAN UJUNG BATU, KABUPATEN ROKAN HULU DAN STM DI DESA PAGAR BATU, KECAMATAN SIPOHOLON KABUPATEN TAPANULI UTARA)”

Penulis

  • Deborah Horma Juniati Institut Agama Kristen Negeri Tarutung
  • Elvri T Simbolon Institut Agama Kristen Negeri Tarutung
  • Harisan Boni Firmando Institut Agama Kristen Negeri Tarutung
  • Martua Sihaloho Institut Agama Kristen Negeri Tarutung
  • Jupalman Welly Simbolon Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Kata Kunci:

Eksistensi, Serikat Tolong Menolong, Masyarakat Batak Perantau

Abstrak

Merantau bagi masyarakat suku Batak sudah menjadi budaya, dilatar belakangi oleh dua faktor, yaitu faktor ekonomi dan faktor sosial budaya. Masyarakat Batak di perantauan membentuk Serikat Tolong Menolong sebagai kelompok sosial yang dibentuk berlandaskan kasih, pancasila, dan UUD 1945 dan mempunyai struktur kepengurusan serta peraturan yang tertulis dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) untuk mengatur setiap anggotanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana upaya, faktor, dan manfaat Serikat Tolong Menolong bagi masyarakat Batak perantau dan membuat komparasi antara eksistensi Serikat Tolong Menolong di Desa Ngaso dan di Desa Pagar Batu. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi komparasi. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada informan kunci dan informan biasa, selain itu data sekunder didapat melalui Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Hasil penelitian menunjukan bahwa, Serikat Tolong Menolong yang ada di Desa Ngaso dan di Desa Pagar Batu diakui eksistensinya ditengah masyarakat Batak di perantauan juga di pemerintahan Desa, sebagai kelompok sosial kedua STM  memiliki struktur kepengurusan dan AD/ART untuk mengatur anggota, STM di Desa Ngaso merupakan satu-satunya kelompok sosial budaya masyarakat Batak dan beragama Kristen di daerah Melayu, sedangkan STM di Desa Pagar Batu merupakan salah satu kelompok sosial yang dibentuk masyarakat Batak Perantau dan tidak terikat oleh satu agama saja di tanah Batak diantara banyaknya kelompok sosial masyarakat Batak lainnya.

The practice of merantau (migration) among the Batak ethnic group has become an ingrained cultural phenomenon, influenced by economic and socio-cultural determinants. The Batak diaspora establishes Serikat Tolong Menolong (Mutual Aid Associations) as social institutions founded on the principles of compassion, Pancasila, and the 1945 Constitution. These associations possess an organizational structure and codified regulations stipulated in their Articles of Association/Bylaws (AD/ART) to guide their members. This study seeks to examine the strategies, influencing factors, and benefits of the Serikat Tolong Menolong for the Batak migrant community and to conduct a comparative analysis of the associations' existence in Ngaso Village and Pagar Batu Village. This research employs a qualitative methodology with a comparative study approach. Primary data were gathered through in-depth interviews with key informants and general participants, while secondary data were sourced from the associations' Articles of Association/Bylaws (AD/ART). The findings indicate that the Serikat Tolong Menolong in both Ngaso and Pagar Batu Villages are recognized for their role within the Batak migrant community and by the village administration. As social institutions, both associations maintain an organizational framework and AD/ART to regulate membership. The Serikat Tolong Menolong in Ngaso Village functions as the primary socio-cultural institution for the Christian Batak community in the Malay region, whereas the association in Pagar Batu Village is one of several social groups formed by Batak migrants, characterized by its religious inclusivity within the broader Batak homeland.

Unduhan

Diterbitkan

2024-09-30