STAGING DALAM MENINGKATKAN EKSPRESI EMOSI TOKOH SHEILA PADA PENYUTRADARAAN FILM WHATEVER LOVE MEANS

Penulis

  • Khoirriyah Okta Ningsih Institut Seni Indonesia Padangpanjang
  • Vicia Dwi Prakarti DB Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Kata Kunci:

Penyutradaraan, Film Fiksi, Staging, Ekspresi Karakter, Proxemics

Abstrak

Penciptaan film fiksi pendek bergenre drama romansa berjudul Whatever Love Means mengeksplorasi konflik psikologis tokoh utama, Sheila (24 tahun), yang terjebak antara komitmen pernikahan dengan David dan memori masa lalunya bersama Fajar. Fokus utama karya ini bertumpu pada tantangan memvisualisasikan emosi mendalam secara non-verbal guna mengurangi ketergantungan pada dialog konvensional. Selaku sutradara, pengkarya mengimplementasikan konsep staging sebagai strategi penyutradaraan utama untuk meningkatkan ekspresi emosi kesedihan, kerinduan, dan kemarahan karakter. Metode penciptaan dilakukan melalui analisis skenario dan riset lapangan dengan mengintegrasikan tiga elemen esensial: staging in depth (pemanfaatan sumbu Z), proxemics (artikulasi jarak fisik antar-aktor), serta dinamika pergerakan aktor dan kamera. Pendekatan ini diaplikasikan secara pada tujuh scene (1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 9). Hasil penciptaan membuktikan bahwa penerapan staging sangat efektif dalam meningkatkan intensitas dramatis visual tokoh Sheila. Pengaturan proxemics berhasil merepresentasikan jarak emosional antartokoh secara akurat, didukung oleh penerapan pencahayaan low-key dan chiaroscuro yang memperkuat estetika mikroekspresi wajah. Sinergi visual ini berhasil mentransformasikan pergolakan afektif internal karakter menjadi bahasa gambar yang intuitif, sehingga mampu mengikat empati penonton secara mendalam.

The creation of the romantic drama short fiction film titled Whatever Love Means explores the psychological conflict of the protagonist, Sheila (24), who is torn between her marital commitment to David and the lingering memories of her past with Fajar. The primary focus of this creative work centers on the challenge of visualizing profound emotions non-verbally to minimize reliance on conventional dialogue. Serving as the director, the creator implements the concept of staging as the primary directorial strategy to amplify the character's expressions of sadness, longing, and anger. The creative method encompasses screenplay analysis and field research, integrating three essential elements: staging in depth (utilization of the Z-axis), proxemics (the articulation of physical distance between actors), and dynamic actor and camera movements. This approach is systematically applied across seven selected scenes (scenes 1, 2, 3, 4, 5, 6, and 9). The results demonstrate that the application of staging is highly effective in heightening the visual dramatic intensity of Sheila's character. The manipulation of proxemics successfully represents the emotional distance between characters with precision, further enhanced by low-key and chiaroscuro lighting techniques that accentuate the aesthetics of facial microexpressions. Ultimately, this visual synergy transforms the character’s internal affective turmoil into an intuitive cinematic language, deeply engaging the audience's empathy.

Unduhan

Diterbitkan

2026-07-30