RESILIENSI NARAPIDANA DALAM MENYINTAS NARKOTIKA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN PEREMPUAN KELAS IIA PEKANBARU
Kata Kunci:
Resiliensi, Narapidana, Penyalahgunaan Narkotika, Lembaga Pemasyarakatan RehabilitasiAbstrak
Meningkatnya tindak pidana narkotika menjadi tantangan bagi lembaga pemasyarakatan, terutama dalam mendukung proses pemulihan dan reintegrasi sosial narapidana perempuan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana narapidana membangun resiliensi dalam menyintas dampak penyalahgunaan narkotika serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan resiliensi selama menjalani pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan pendekatan hukum empiris yang didukung oleh observasi, dokumentasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi tercermin dalam kemampuan narapidana untuk beradaptasi dengan kehidupan di lembaga pemasyarakatan, mengelola tekanan emosional, membangun kembali tujuan hidup yang positif, serta berpartisipasi aktif dalam program rehabilitasi dan pembinaan. Kebaruan artikel ini terletak pada analisis resiliensi sebagai faktor penting dalam proses pemulihan narapidana perempuan penyalahguna narkotika di lingkungan pemasyarakatan. Resiliensi dipengaruhi oleh faktor internal berupa kesadaran diri dan motivasi, serta faktor eksternal berupa dukungan keluarga, interaksi sosial, dan program pembinaan yang diselenggarakan oleh lembaga pemasyarakatan. Penguatan resiliensi berkontribusi terhadap pemulihan psikologis, menurunkan risiko penyalahgunaan kembali, dan meningkatkan peluang reintegrasi sosial setelah bebas. Oleh karena itu, resiliensi perlu ditempatkan sebagai komponen penting dalam pembinaan narapidana kasus narkotika.
The increasing number of narcotics-related offenses has become a significant challenge for correctional institutions, particularly in supporting the recovery and social reintegration of female inmates. This article aims to examine how inmates develop resilience in coping with the consequences of narcotics abuse and to identify the factors influencing resilience formation during the correctional process at the Class IIA Women’s Correctional Institution of Pekanbaru. This study employs an empirical legal approach supported by observation, documentation, and literature review. The findings reveal that resilience is reflected in inmates’ ability to adapt to correctional life, manage emotional pressures, reconstruct positive life goals, and actively participate in rehabilitation and guidance programs. The novelty of this article lies in its analysis of resilience as a crucial factor in the recovery process of female narcotics offenders within a correctional environment. Resilience is shaped by internal factors, including self-awareness and motivation, as well as external factors such as family support, social interaction, and institutional guidance programs. Strengthening resilience contributes to psychological recovery, reduces the risk of relapse, and enhances the prospects for successful social reintegration after release. Therefore, resilience should be positioned as an essential component of correctional guidance for narcotics-related inmates.


