BAHASA GAUL PADA PODCAST: ALOY GAK MOOD! VINCENT DESTA HESTI ENZY SEMBAH ALOY SUPAYA MAU SYUTING!:KAJIAN SOSIOLINGUISTIK
Kata Kunci:
Bahasa Gaul, Sosiolinguistik, Podcast, VINDES, Variasi BahasaAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bentuk-bentuk bahasa gaul yang digunakan dalam podcast VINDES berjudul “Aloy Gak Mood! Vincent Desta Hesti Enzy Sembah Aloy Supaya Mau Syuting!”. Fenomena penggunaan bahasa gaul pada media digital semakin berkembang seiring meningkatnya popularitas podcast sebagai media komunikasi dan hiburan, khususnya di kalangan generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kajian sosiolinguistik. Sumber data berupa tuturan para pembicara dalam podcast yang diunggah pada kanal YouTube VINDES. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak dan teknik catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan mendeskripsikan bentuk-bentuk bahasa gaul berdasarkan teori bahasa gaul/slang Chaer dan Agustina. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 83 data bahasa gaul yang terdiri atas 13 data singkatan, 18 data slang, 29 data kiasan, 7 data sapaan, 3 data sumpah/umpatan, dan 13 data ekspresi. Penggunaan bahasa gaul dalam podcast didominasi oleh ragam santai dan ragam akrab yang berfungsi membangun kedekatan antarpembicara, menciptakan humor, mengekspresikan emosi, memperkuat identitas kelompok, serta menunjukkan pengaruh budaya populer dan media digital terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa podcast menjadi salah satu media yang berperan dalam penyebaran dan perkembangan bahasa gaul di masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.
This study aims to describe and analyze the forms of slang language used in the VINDES podcast entitled “Aloy Gak Mood! Vincent Desta Hesti Enzy Sembah Aloy Supaya Mau Syuting!”. The use of slang in digital media has grown rapidly along with the increasing popularity of podcasts as a medium of communication and entertainment, particularly among young people. This research employed a descriptive qualitative approach within the framework of sociolinguistics. The data source consisted of the utterances produced by the speakers in the podcast uploaded to the VINDES YouTube channel. Data were collected using observation and note-taking techniques, while data analysis was conducted by identifying, classifying, and describing the forms of slang based on the slang language theory proposed by Chaer and Agustina. The findings revealed 83 instances of slang language, consisting of 13 abbreviations, 18 slang words, 29 figurative expressions, 7 terms of address, 3 swear words/expletives, and 13 expressive utterances. The use of slang in the podcast is dominated by casual and intimate language varieties that function to build solidarity among speakers, create humor, express emotions, strengthen group identity, and reflect the influence of popular culture and digital media on the development of the Indonesian language. The study concludes that podcasts have become one of the important digital media contributing to the dissemination and development of slang language, particularly among the younger generation.




