ANALISIS NERACA BERAS DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2015-2045

Penulis

  • Hanida Aulia Santi Universitas Lambung Mangkurat
  • Norma Yuni Kartika Universitas Lambung Mangkurat

Kata Kunci:

Ketersediaan Beras, Kebutuhan Beras, Lahan Rawa, Neraca Beras, Proyeksi Ketahanan Pangan

Abstrak

Ketahanan pangan merupakan pilar strategis SDGs (Zero Hunger). Kalimantan Selatan berperan penting sebagai lumbung pangan Pulau Kalimantan, namun fluktuasi produksi di lahan rawa dan pertumbuhan penduduk memicu risiko ketidakseimbangan pangan. Penelitian ini menganalisis serta memproyeksikan ketersediaan, kebutuhan, dan neraca beras periode 2015–2045 menggunakan pendekatan KHL, DKP, dan KFM. Metode deskriptif kuantitatif diterapkan pada data time series BPS menggunakan metode laju pertumbuhan dan eksponensial. Hasil penelitian menunjukkan ketersediaan beras terendah terjadi pada tahun 2022 (514.105 ton) akibat banjir 2021, namun diproyeksikan pulih bertahap hingga 865.05 ton pada tahun 2045 melalui peningkatan produktivitas lahan rawa suboptimal. Sementara itu, kebutuhan beras meningkat linier seiring pertumbuhan penduduk urban. Berdasarkan analisis neraca, Kalimantan Selatan mampu mempertahankan status surplus hingga 2045 pada skenario KHL dan DKP. Namun, pada skenario konsumsi tertinggi (KFM), wilayah ini dihadapkan pada risiko rentetan defisit panjang yang membentang dari tahun 2032 hingga 2043.

Food security is a strategic pillar in sustainable development (SDGs), specifically Zero Hunger. South Kalimantan Province serves as a vital food barn on Kalimantan Island, yet wetland production fluctuations and rapid population growth risk future food imbalances. This study analyzes and projects rice availability, demand, and balance in South Kalimantan (2015–2045) using KHL, DKP, and KFM approaches. The descriptive quantitative method utilized BPS time-series data, applying growth rate and exponential methods. The results showed that rice availability hit its lowest point in 2022 (514,105 tons) due to the 2021 flood but is projected to recover gradually to 865,051 tons by 2045, relying on suboptimal wetland productivity rather than land expansion. Meanwhile, rice demand increases linearly with urban population growth. South Kalimantan generally maintains a surplus until 2045 under KHL and DKP scenarios. However, under the highest consumption scenario (KFM), the region faces a prolonged deficit risk stretching from 2032 to 2043.

 

Unduhan

Diterbitkan

2026-07-30