MEMBANGUN BUDAYA SALING PERCAYA: PERAN PROFETIK PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MASYARAKAT PLURAL INDONESIA
Kata Kunci:
Budaya Saling Percaya, Peran Profetik, Pendidikan Agama Kristen, Masyarakat Plural, Moderasi BeragamaAbstrak
Kemajemukan Indonesia menyimpan potensi gesekan sosial apabila budaya saling percaya (mutual trust) antarkelompok identitas tidak dijaga, sementara Pendidikan Agama Kristen (PAK) selama ini lebih banyak diposisikan sebagai sarana pembinaan iman internal jemaat ketimbang sebagai instrumen pembangunan kepercayaan lintas identitas. Penelitian ini mengkaji secara konseptual bagaimana peran profetik PAK, yakni keberanian menyuarakan kebenaran, keadilan, dan perdamaian, dapat menjadi jalan membangun budaya saling percaya di tengah masyarakat plural Indonesia. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), dengan data dari Alkitab, buku teologi, dan artikel jurnal ilmiah terbitan enam tahun terakhir yang dianalisis secara deskriptif-analitis melalui teknik analisis isi (content analysis). Hasil kajian menunjukkan bahwa peran profetik PAK dapat menumbuhkan kepercayaan melalui empat dimensi yang saling menopang, yaitu kritik sosial, keadilan inklusif, perdamaian, dan saling percaya sebagai muara dari ketiganya. Penelitian ini merekomendasikan agar kurikulum PAK direkonstruksi untuk secara sengaja menumbuhkan kredibilitas dan keterbukaan warga gereja terhadap sesama yang berbeda identitas, sehingga tercipta modal sosial keagamaan yang kokoh bagi keutuhan bangsa.
Indonesia's plurality carries the risk of social friction when mutual trust between groups of differing identities is not maintained, yet Christian Religious Education (CRE) has largely been confined to internal congregational faith formation rather than serving as an instrument for building cross-identity trust. This study conceptually examines how the prophetic role of CRE, namely its courage to voice truth, justice, and peace, can serve as a pathway toward cultivating a culture of mutual trust within Indonesia's plural society. The research employs a qualitative library research method, with data from the Bible, theological literature, and journal articles published within the last six years, analyzed descriptively and analytically through content analysis. The findings show that the prophetic role of CRE can foster mutual trust through four mutually reinforcing dimensions: social critique, inclusive justice, peace, and mutual trust itself as their culminating outcome. The study recommends that CRE curricula be reconstructed to deliberately cultivate credibility and openness among congregants toward those of differing identities, producing a robust religious social capital for national cohesion.




