RITUS PEMBERSIHAN JIWA EKSPLORASI PERMANDIAN DALAM TRADISI CEAR CUMPE DALAM KEBUDAYAAN MANGGARAI DI KAMPUNG TOKA
Kata Kunci:
Cear Cumpe, Budaya Manggarai, Leluhur, Morin, Wujud TertinggiAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendalami dan mengungkapkan makna teologis dari ritus cear cumpe dalam tradisi Manggarai, serta mengkaji keterkaitannya dengan ritus permandian dalam gereja Katolik yang berfungsi sebagai upacara pembersihan jiwa. Agar mencapai tujuan tersebut, penulis menggunakan metode penelitian observasi partisipatif yang dilengkapi dengan wawancara dan informasi kunci seperti tokoh-tokoh masyarakat dan tua-tua adat. Metode ini akan dibantu dengan metode-metode lain seperti wawancara dengan informan kunci, dengan tokoh-tokoh masyarakat seperti tua-tua adat, dan juga didukung oleh metode penelitian kepustakaan yaitu melalu sumber-sumber tertulis. Dalam penelitian ini penulis menggali lebih dalam terkait kesamaan antara ritus cear cumpe dalam tradisi Manggarai dan ritus permandian dalam gereja Katolik. Hasil penelitian dan tekstual mengungkapkan bahwa upacara cear cumpe mengandung makna teologi yang mendalam. Ritus ini mempunyai kesamaan dengan ritus permandian dalam gereja Katolik. Ungkapan atau tuturan yang diungkapkan dalam upacara ini mempunyai dimensi teologis. Melalui upacara ini kita di ajak untuk memahami makna teologis dari upacara pembersian jiwa dan simbol-simbolnya yang dimana hal tersebut diungkapkan melalui ritus dalam kebudayaan Manggarai. Upacara ini membangkitkan kesadaran kita bagaimana kesatuan antara tradisi asli Manggarai dengan tradisi yang ada di dalam ajaran gereja Katolik. Upacara ini juga merupakan sebagai bentuk doa kepada wujud tertinggi (Morin) melalui perantaraan roh leluhur. Secara umum penelitian ini menyimpulkan bahwa upacara cear cumpe bukanlah ritus penyembahan berhala terhadap roh Leluhur, melainkan sebagai bentuk ungkapan syukur dan pembersihan jiwa secara tradisional yang dimana hal tersebut dilakukan melalui ritus kebudayaan (cear cumpe).
This study aims to explore and reveal the theological meaning of the cear cumpe ritual in the Manggarai tradition, as well as to examine its connection with the baptism ritual in the Catholic Church, which serves as a ceremony for cleansing the soul. To achieve this objective, the author uses a participatory observation research method supplemented by interviews and key information from community leaders and traditional elders. This method will be supplemented by other methods, such as interviews with key informants, community leaders such as traditional elders, and supported by library research methods, namely written sources. In this study, the author explores the similarities between the cear cumpe ritual in the Manggarai tradition and the baptism ritual in the Catholic Church. The results of the research and textual analysis reveal that the cear cumpe ceremony has a profound theological meaning. This ritual has similarities with the baptismal rite in the Catholic Church. The expressions or utterances used in this ceremony have a theological dimension. Through this ceremony, we are invited to understand the theological meaning of the soul cleansing ceremony and its symbols, which are expressed through rituals in Manggarai culture. This ceremony raises our awareness of the unity between the indigenous traditions of Manggarai and the traditions found in Catholic teachings. This ceremony is also a form of prayer to the supreme being (Morin) through the intercession of ancestral spirits. In general, this study concludes that the cear cumpe ceremony is not a ritual of idol worship of ancestral spirits, but rather a form of traditional expression of gratitude and purification of the soul, which is carried out through cultural rites (cear cumpe).




