MENYELISIK MAKNA TEOLOGIS RITUS TEING HANG DALAM BUDAYA MANGGARAI

Penulis

  • Yohanes Paulus Gagu Institut Filsafat Dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Rafael Samuel Besi Institut Filsafat Dan Teknologi Kreatif Ledalero

Kata Kunci:

Teing Hang, Budaya Manggarai, Leluhur, Wujud Tertinggi

Abstrak

Tulisan ini bertujuan untuk menggali makna teologis yang terkandung dalam ritus atau upacara teing hang kepada leluhur dalam budaya Manggarai. Dalam rangka menemukan makna teologis tersebut penulis menganalisis dari aspek struktural dari teks dalam upacara teing hang kepada leluhur dalam budaya Manggarai. Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode kualitatif deskriptif dengan melakukan studi kepustakaan, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan teologis. Berdasarkan hasil analisis struktural dan tekstual upacara teing hang kepada leluhur, penulis mendeskripsikan secara kualitatif untuk menemukan nilai-nilai teologis sambil mencari korelasi dengan pandangan dan pemahaman iman Katolik. Hasil yang diperoleh dari penelitian ialah 1) secara tekstual, torok teing hang kepada leluhur mengandung makna teologis yang sangat mendalam. Setiap kata yang diucapkan oleh penutur torok mengandung makna teologis. 2) Melalui upacara teing hang, penutur torok mengajak orang-orang yang ikut dalam upacara tersebut (secara umum masyarakat Manggarai) untuk memahami teologi kematian. Upacara tersebut syarat makna simbolik. 3) Melalui upacara ini, penutur torok mengajak semua orang untuk memfondasikan hidup tidak hanya pada tataran empirik, tetapi juga pada tataran metaisik. Secara umum, penulis menyimpulkan bahwa upacara teing hang kepada leluhur bukanlah bentuk praktik penyembahan berhala, atau paham dualistis dan atau sinkretisme. Melalui upacara tersebut, masyarakat Manggarai disadarkan akan kehidupan sesudah kematian dan bahwa relasi antarorang hidup (Gereja Musair) dan orang yang sudah meninggal (Gereja Jaya dan Gereja Menderita) tidak berakhir dengan kematian. Mereka yang sudah meninggal dapat dijadikan sebagai pengatara doa kepada Allah berkat status barunya yakni status adi-insani. Akan tetapi, kepengantaraan orang yang sudah meninggal tidak dapat disamakan dengan peran kepengantaran santo atau santa.

Unduhan

Diterbitkan

2026-04-29